KUI Dorong Ekspansi Produk di Tengah Tren Penurunan Penjualan
Oleh : M. Amru, Eddi, Abi | Senin, 04 Maret 2024 - 08:42 WIB

Industri Alat Berat
INDUSTRY.co.id - Tren penjualan alat berat dan industri pendukungnya, yakni industri komponen ditaksir bakal menurun hingga penghujung tahun ini. Lantas bagaimana Komatsu Undercarriage Indonesia (KUI) mengatasi tren penurunan ini?
Penjualan alat berat di tahun ini diperkirakan bakal menyusut dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai kisaran angka 20.000 unit. Terdapat sejumlah faktor yang menyebabkannya, yakni adanya penurunan aktivitas dari sektor konstruksi, penurunan harga komoditas, dan tahun pemilu.
Berdasarkan Data Himpunan Industri Alat Berat Indonesia (Hinabi), dari sisi produksi alat berat di semester I-2023 hanya mencapai 4.014 unit. Jumlah tersebut turun tipis dibanding realisasi produksi alat berat periode semester I-2022 yang mencapai 4.042 unit.
Alat berat yang diproduksi pada periode enam bulan pertama ini, meliputi Hydraulic Excavator sebanyak 3.372 unit, Bulldozer 391 unit, Dump Truck 220 unit, dan Motor Grader 31 unit. Hinabi sendiri menargetkan produksi alat berat di tahun ini tetap di angka 10.000 unit, dengan syarat tren sektor pertambangan terus melaju.
Ketua Perhimpunan Agen Tunggal Alat Berat Indoensia (PAABI), Etot Listyono, mengungkap penjualan alat berat untuk pekerjaan konstruksi dan industri tambang lebih fluktuatif ketimbang agroforestri yang tak mengalami pertumbuhan signifikan.
“Ada penurunan penjualan alat berat di periode semester pertama tahun ini, kurang lebih sekitar 3% dibandingkan dengan tahun lalu, untuk sektor konstruksi dan tambang,” ungkapnya.
Tren penurun (down trend) penjualan alat berat pada gilirannya, akan berimbas terhadap penjualan komponennya, termasuk struktur bagian bawah (under carriage) dari alat berat. Seperti dialami Komatsu Undercarriage Indonesia yang mengalami penurun penjualan diparuh pertama tahun ini.
Menurut Erwan Yulianto, Presiden Direktur PT Komatsu undercarriage Indonesia pemicu dari downtrend ini dikarenakan menurunnya harga komoditas terutama batu bara.
Pasalnya, bila harga komoditi turun maka permintaan dari alat berat itupun akan lebih turun. Pemicu lainnya, sektor kontruksi pembangunan yang terpengaruh dan sedang sedikit menunggu bagaimana politik ke depan.
Industri alat berat dikategorikan berdasarkan empat sektor penggunanya, yaitu sektor agro, kehutanan, konstruksi, serta pertambangan.
”Bisnis KUI pun dipengaruhi empat sektor tersebut. Jadi sangat tergantung pada sektor komoditas dan kontruksi,” jelas dia saat ditemui redaksi media grup INDUSTRY.co.id dikantor KUI di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, beberapa waktu lalu.
Erwan mengaku optimistis bisa mengatasi downtrend ini. Pasalnya KUI sendiri sebelumnya pernah mengalami yang lebih buruk, dimana penjualannya hanya ada di level US$80 juta - US$90 juta pada tahun 2020.
“Yang menarik dari industri alat berat naik - turunnya sangat tajam. Bila sudah pada posisi turun seperti saat ini. Upaya terpenting yang dilakukan adalah menjaga stok persedian (inventory) supaya tidak banyak, sebab jika inventory terlalu banyak lebih sulit dari sisi kontrol operasionalnya, terutama kontrol Cash Flow perusahaan,” jelas dia.
Langkah konkret pun telah dilakukan KUI dalam mengatasi permasalahan yang terjadi. Dimana perusahaan melakukan ekspansi model baru dengan memproduksi produk customize sesuai permintaan. Semisal memproduksi final drive untuk memenuhi kebutuhan Komatsu Indoesia (KI)
“Kami juga memproduksi model - model besar yang sebelumnya tidak ada dan mulai masuk ke pasar komponen alat berat baik domestik maupun ekspor. yang akan bersaing dengan produk yang sudah ada, tapi kami yakin model - model baru ini dapat diterima dan mendapatkan porsi pada pelanggan-pelanggan setia kami,” pungkasnya.
Baca Juga
Siswadhi Pranoto Loe Tegaskan Pentingnya Implementasi ESG Bagi Dunia…
Mengenal Sosok Benny Rahadian "Kolonel Dermawan" yang Terkenal Disetiap…
Mengenal Lebih Dekat Sosok Marsekal Muda TNI Budhi 'Phantom' Achmadi,…
Plant Director L'Oréal Manufacturing Indonesia: Pabrik Kami di Jababeka…
Perjalanan Kao Indonesia, Raksasa Consumer Goods Dunia dari Jababeka
Industri Hari Ini

Kamis, 03 April 2025 - 16:38 WIB
Inovator Plester Luka, Hansaplast Pemimpin Pasar Perawatan Luka di Era Digital
Jakarta - Lebih dari satu abad sejak pertama kali diperkenalkan di Jerman pada tahun 1922 oleh Beiersdorf, Hansaplast telah menjelma menjadi nama yang sangat akrab di hati masyarakat global,…

Kamis, 03 April 2025 - 14:39 WIB
Konsisten Terapkan Prinsip ESG untuk Bisnis Berkelanjutan, BRI Raih 2 Penghargaan Internasional dari The Asset Triple A
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) kembali mencatatkan prestasi gemilang di kancah internasional dengan meraih penghargaan bergengsi dalam The Asset Triple A Awards for Sustainable…

Kamis, 03 April 2025 - 14:29 WIB
Layani Nasabah pada Libur Lebaran, Bank DKI Terapkan Operasional Terbatas
Jakarta – Sebagai bentuk layanan Bank DKI terhadap kebutuhan masyarakat dalam melakukan transaksi perbankan, Bank DKI menerapkan operasional layanan terbatas pada momen cuti bersama dan libur…

Kamis, 03 April 2025 - 14:09 WIB
Inovasi dan Keunikan dalam Pembangunan Terowongan Karya Anak Bangsa di Samarinda yang digarap oleh PTPP
Proyek pembangunan Terowongan Jalan Sultan Alimuddin-Kakap yang digarap oleh PTPP di Kota Samarinda kini semakin mendekati penyelesaian dengan progres mencapai 91,702%.

Kamis, 03 April 2025 - 06:26 WIB
Bank DKI Tetap Layani Nasabah Saat Libur Lebaran 2025
Bank DKI akan mengoperasikan layanan terbatas pada tanggal 31 Maret, 1-5 April, dan 7 April 2025 di beberapa kantor cabang tertentu.
Komentar Berita